Jatuh yang Membangkitkan Part1

September 28, 2020

Jatuh yang Membangkitkan Part1

Foto Bersama Istri

Muhammad Syukri, S.T, M.TI, lahir di Kota Kecil Kuala Tungkal, Jambi 19 Desember 1977 lahir dari keluarga petani dan pedagang kecil Ayahnya hanya tingkat satu Sekolah Rakyat dan Ibu tidak Sekolah, saat ini bertempat tinggal di Tangerang. Sejak kecil bercita-cita menjadi Seorang Insinyur akhirnya mengantarkan beliau lulus S1 Teknik Informatika di Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta. Melanjutkan kuliah S2 di Magister Teknologi Informasi di Universitas Bina Nusantara Jakarta. Saat ini sebagai CEO di PT. Aretanet Indonesia bergerak di bidang Property, Education, IT Development & Digital Marketing. Mendirikan Lembaga Pendidikan IT dan Bisnis dengan nama Areta Informatics College yang mencetak SDM IT Profesional dan Pebisnis.

Sejak kecil saya sudah sering membantu kedua orang tua saya berdagang kecil kecilan mulai dari jualan buah, jualan kue dan sebagainya. Ayah saya seorang petani sekaligus seorang pedagang, saat masih kecil pernah di belikan sepeda dan jiwa bisnis saya mulai terasah saat itu dengan menyewakan sepeda keteman-teman.

Setelah dewasa saya mencoba peruntungan nasib sebagai pekerja di salah satu kota di Riau sebut saja namanya pulau Batam. Background pendidikan saya dari STM jurusan bangunan akhirnya membawa saya untuk bekerja sebagai kernet bangunan. Singkat cerita saya putuskan untuk melanjutkan kuliah ke Jogja karena merasa bekerja sama orang itu tidak membuat saya bahagia, hehehe.

Saya memulai bisnis pertama kali bersama teman-teman kuliah, alasan saya membuka usaha karena kebutuhan hidup saat itu dimana orang tua tidak memiliki uang yang cukup untuk membiaya saya kuliah di Jogja. Saya putuskan membuka usaha rental komputer dan pengetikan. Bermodal patungan bersama tiga orang teman kuliah dimulailah membuat usaha.

Setelah lulus kuliah saya bertemu dengan salah satu pakar IT dan juga seorang Dosen di Jakarta, beliau salah satu Professor termuda Lulusan Harvard University dan memiliki jabatan strategis di beberapa perusahaan dan universitas di Indonesi. Saat itu saya menawarkan diri untuk bekerja dengan beliau, saya katakan ke beliau bahwa saya mau bekerja tanpa dibayar dan mau cari pengalaman. Akhirnya saya diajak untuk bekerja di salah satu unit perusahaannya di Jakarta Selatan di bidang Jasa Konsultan IT dan Pelatihan. Disamping membantu beliau di usahanya yang baru rintisan, saya juga berkesempatan untuk jadi asisten dosen beliau di berbagai Universitas Swasta terkemuka di Jakarta. Di sinilah Saya diasah dan belajar berbagai hal yang betul-betul baru yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah, kelak menjadi bekal dan pengalaman dalam membangun usaha.

Kurang lebih dua tahun saya ikut dengan beliau saya putuskan untuk resign karena saya merasakan sudah cukup pengalaman belajar dan saya putuskan untuk membangun usaha sendiri. Saat itu saya masih belum tahu mau usaha apa berbekal ikut ikutan workshop, seminar tentang bisnis dan buku buku yang saya beli dan baca bertema bisnis dan dunia usaha, saya putuskan untuk membuka bisnis kuliner. Masih segar dalam ingatan saya persis saat itu puunya uang di ATM hanya ada lima puluh ribu rupiah saya beranikan untuk mecari ruko, kios atau rumah yang mau disewakan di daerah Jakarta selatan sekitaran kampus tempat saya menjadi Asisten Dosen. Tak lama berselang setiap ada waktu keliling cari cari, akhirnya saya menemukan salah satu unit kios yang mau disewakan. Berbekal modal nekat dan petuah dari Mentor bisnis saya kalo mau mulai bisnis gunakan ilmu BODOL yakni Berani Optimis Duit Orang Lain lalu saya beranikan diri untuk menanyakan sewa kiosnya ke yang punya toh kalo nanya kan gak bayar iya kan? Itu juga salah satu petuah Mentor saya. Hehehe.

Singkat cerita itu kios berhasil saya sewa dengan modal DP lima puluh ribu keren kan? padahal harga sewanya hampir 10 jt pertahun waktu itu sekitar tahun 2003. Masalah pertama sudah terpecahkan yakni masalah tempat usaha, selanjutnya bagaimana? Saya mau buka usaha apa? Saya cari bisnis apa yang mau saya buka, waktu itu saya sempat kenal beberapa pebisnis UMKM pemilik kuliner, saya datangi salah satu pemilik usaha Burger. Saya datangi rumahnya saya bilang ke pemilik usaha bahwa saya sudah punya tempat usaha dan saya butuh kerjasama untuk buka usaha. Akhirnya deal untuk kerjasama kemitraan dengan modal cukup minim waktu itu kurang dari 1 juta saya sudah dapat satu unit gerobak beserta produk dan peralatan masak. Pada saat itu saya belum punya uangnya, wong kios aja baru DP lima puluh ribu ngenes banget kan? . Dengan memberanikan diri saya katakan ke beliau, saya mau pulang dulu untuk mengambil uangnya.

Saya mesti cari pemodal nih pikir saya, karena saya gak punya uang sama sekali uang satu lembar lima puluh ribu sudah saya DP in buat sewa kios. Siapa yang bisa saya ajak sebagai pemodal? Akhirnya sambil di perjalanan pulang kepikiran dengan mertua saya. Saat pulang saya sampaikan kepada ibu mertua saya bahwa saya sudah punya kios dekat kampus, dan mau buka bisnis kuliner tapi belum ada modalnya. Karena melihat kesungguhan saya, dan tekad saya yang luar biasa dengan pasang muka melas, akhirnya beliau mau memberikan pinjaman modal. Yes, dalam hati saya sudah berhasil untuk memulai usaha kuliner pertama saya. Sejak saat itu saya mulai kerajingan buka bisnis dari satu cabang merambah puluhan cabang dari mulai bisnis kuliner, pendidikan, IT, sampai property. Jumlah karyawan mencapai puluhan orang beban usaha semakin meningkat saat itu saya masih sambil bekerja sebagai seorang Dosen di salah satu kampus swasta di Jakarta. Ilmu bisnis masih minim banget, modalnya hanya berangi doang sehingga urusan uang, urusan SDM, pembagian waktu dan lain sebagainya saya nggak tahu bagaimana cara mengelolanya, pagi sampai sore hari bekerja, malam hari dan sabtu minggu ngurusin bisnis kebayangkan capeknya. Hehehe.

Sampai satu ketika usaha-usaha yang saya bangun satu persatu bangkrut dan menyisakan hutang RIBA milyaran rupiah dari belasan bank yang saya pinjam dan beberapa teman, kerabat termasuk mertua saya. Stress banget saat itu hampir saya gak kuat menahan beban yang luar biasa karena hampir setiap hari pagi, siang, bahkan malam hari di terror dan didatangi debt collector seperti makan obat. Bukan hanya saya yang mendapatkan terror ke rumah ke kantor tapi termasuk keluarga besar saya termasuk orang tua dan mertua saya mendapatkan perlakuan yang sama.

Saat itulah titik nadir kehidupan saya dan bisnis saya hancur tidak adalagi tempat saya bersandar. Waktu itu sekitar tahun antara 2009-2010. Di saat saya sudah tidak bisa melakukan apa-apa iseng-iseng saya browsing di facebook dan menemukan iklan workshop “How to Be Debt Free”. Dalam hati saya wah menarik juga ini mungkin saya dapat menemukan solusi dari permasalahan saya di workshop ini. Saya hubungi panitia penyelenggaranya waktu itu sekitar tahun 2010 workshop di adakan di Surabaya. Saya dengan tekad bulat ikut workshop tersebut.

Balik dari workshop saya lakukan semua apa yang diajarkan disana, bener-bener mengubah cara pandang saya tentang bisnis yang saya lakukan saat ini. Sekitaran tahun 2013 saya mulai memberanika diri lagi memulai usaha dengan sedikit demi sedikit, usaha yang saya bangun adalah lembaga pendidikan Training di bidang IT, berbekal pengalaman saya sebelumnya. Sempat orang tua tidak menyetujui saya untuk membuka usaha lagi, kerja aja katanya jadi karyawan biar dapat gaji tetap. Tapi tekad saya sudah bulat untuk memulai usaha kembali. Perlahan lahan permasalahan mulai terurai dengan mentalitas yang berbeda dan cara pandang bisnis yang berbeda. Saya sudah tidak terlalu berambisi untuk membuat bisnis saya terlalu cepat berkembang namun saya memperkuat pondasi bisnis saya.

Akhir 2015 saya mulai membuat pendidikan IT dengan konsep belajar layaknya seperti kuliah vokasi yang saya namakan AIC (Areta Informatics College) program kuliah profesi 2 tahun. Keunggulan dari AIC adalah konsep belajar 90% praktek dengan pengajar praktisi dan bersertifikasi internasional. Sehingga diharapkan peserta didik memiliki skill dan kompetensi yang unggul. Disamping itu AIC juga memberikan mata kuliah softskill yakni Leadership, Character Building, Entrepreneurship, dan Public Speaking. Sehingga peserta didik disamping memili skill teknis juga memilik skill Bisnis dan punya karakter. Alhamdulillah output dari sistem pembelajaran yang kami terapkan membuat mereka belum lulus sudah diterima kerja di berbagai perusahaan dan bahkan sudah ada yang memiliki usaha sendiri.

Visi AIC adalah menjadi “GERBANG INSAN MANDIRI”. GERBANG mencerminkan figure AIC dimasa mendatang, yakni sebagai lembaga yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju terbentuknya karakter SDM yang unggul dan berdaya saing. INSAN MANDIRI mencerminkan kualitas SDM yang telah mengenyam pendidikan di AIC benar-benar siap dan mampu bersaing di dunia professional dan dunia usaha, khususnya di bidang Teknologi Informasi dan Entrepreneurship.

Sepanjang perjalanan membangun bisnis AIC, saya terus mengupgrade ilmu tentang bisnis, sampai suatu ketika berkesempatan untuk mengikuti dan belajar langsung dengan Grand Master Coach Dr. Fahmi di Workshop Grounded Business Coaching. Setelah mengikuti workshop “Grounded Business Coaching” Led Coach Dr. Fahmi selama 5 hari saya betul-betul memahi bisnis saya ini secara detil dan siap melakukan eksekusi Coacing Bisnis saya pribadi dengan tools dan strategi yang sudah diajarkan di Grounded Coaching. Saya bisa melihat dan merasakan pertumbuhan bisnis AIC dan prospek kebutuhan SDM IT yang semakin meningkat saat ini, saya meyakini bahwa 3 tahun kedepan AIC akan bertumbuh dengan jumlah peserta didik 3000 siswa. Mohon do’a teman-teman sehingga kami dapat mencapai target tersebut.

Setelah kejatuhan dari belasan bisnis yang saya jalankan sebelumnya dengan cara yang tidak benar, dengan ilmu bisnis yang minim bermodalkan keberanian dan nekad yang berakhir dengan menyisakan hutang riba, akhirnya bisnis yang saat ini sedang saya bangun mulai saya benahi. Saya mulai sangat berhati hati dan selektif dalam menjalankan bisnis ini. Kalo boleh dikatakan sangat lamban. Berkaca dengan pengalaman bisnis bisnis sebelumnya saya mulai membangun usaha kembali. Lembaga pendidikan Areta Informatics College ini saya bangun pondasi dengan kuatnya dulu baru besar, karena untuk besar lebih mudah dilakukan ketika pondasi bisnis kita sudah kuat. Kuat apanya? Kuat Sistemnya, kuat manajemennya, kuat finacialnya, kuat produknya dan kuat marketnya.

Apakah dalam membangun AIC ini yang berfokus pada kuatnya dulu ini tidak bermasalah? Ternyata banyak sekali masalah yang saya hadapi. Saya dan tim sudah melakukan list seratus daftar masalah yang ada di bisnis saya lima puluh daftar masalah dari internal dan lima puluh masalah dari external. Ternyata saya baru menyadari dan menemukan masalah terbesar dari seratus daftar masalah yang kami temukan ternyata adalah masalah sales & marketing. Biang keladinya ternyata ini, sekali lagi masalah sales & marketing. Masalah ini menjadikan omset bisnis kami tidak mencapai target. Ada yang salah dengan saya dan tim sales & marketing kami, masalah strategi eksekusi sales & marketing.

Alhamdulillah saya panjatkan Segala Puji Bagi Allah, saya sangat bersyukur dipertemukan dengan workshop Grounded Business Coaching Led by Coach Dr. Fahmi selama 5 hari di Malang, yang memberikan pemahaman kepada secara utuh tentang strategi eksekusi dengan 110 tools bisnis Grounded Coaching yang salama ini saya gamang dan bingung bagaimana melakukan strategi eksekusi. Banyak workshop yang saya ikuti hanya memberikan pemahaman dari sisi mindset bisnisnya saja tapi tidak mengajarkan bagaimana cara eksekusinya.

Sekembalinya dari workshop Grounded Business Coaching Led by Coach Dr. Fahmi saya langsung take double action melakukan meeting dengan team AIC membuat perencanaan strategi marketing serta mengeksekusinya. Fokus saya dan team saat ini adalah bagaimana strategi eksekusi sales & marketing untuk meningkatkan omset bisnis kami.